Langsung ke konten utama

DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS BERAKAR DALAM KITAB SUCI PERJANJIAN LAMA

 

PENDAHULUAN


Inti Pemikiran Jules Chevalier: Devosi yang Berakar dalam Wahyu Ilahi


P. Jules Chevalier (1824–1907), pendiri Tarekat Misionaris Hati Kudus (Missionnaires du Sacré-Cœur), menegaskan bahwa devosi kepada Hati Kudus Yesus bukanlah devosi baru atau sentimental, melainkan berakar dalam seluruh sejarah keselamatan, bahkan sejak Perjanjian Lama.

Ia membuka refleksinya dengan kutipan mendalam:

« Dieu est charité » (1 Jn 4,16) — Deus caritas est.
“Allah adalah kasih.”

Chevalier memandang seluruh rencana keselamatan sebagai manifestasi kasih Allah yang berpuncak dalam Inkarnasi Sabda, ketika “le Verbe s’est revêtu du manteau de notre chair” — Sabda mengenakan jubah kemanusiaan kita.
Dengan kata lain, Hati Kudus Yesus adalah lambang nyata kasih Allah yang kekal dan tak terbatas yang kini menjadi kelihatan dan dapat disentuh dalam diri Kristus.

Dalam Perjanjian Lama: Benih Devosi kepada Hati Kudus

Menurut Chevalier, meskipun devosi ini baru berkembang penuh setelah penampakan kepada St. Marguerite-Marie di Paray-le-Monial, benihnya sudah tersembunyi dalam seluruh Kitab Suci, khususnya dalam simbol-simbol, nubuat, dan pengalaman para tokoh Perjanjian Lama.

a) Cinta Allah yang mengejar manusia sejak Kejatuhan

Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, Allah tidak menghukum secara mutlak, melainkan mencari mereka dengan kelembutan:

« Adam, ubi es? » — “Adam, di manakah engkau?” (Kej 3:9)

Chevalier melihat di sini tanda pertama kasih penebusan, suatu kasih yang lebih kuat daripada keadilan.
Ia menulis bahwa “la miséricorde désarme la justice” — belas kasih melucuti kekuatan keadilan.
Dari saat itu, janji seorang Penyelamat (Proto-Evangelium) sudah menjadi tanda detak pertama Hati Ilahi yang mencintai umat manusia.

b) Nuh, Abraham, dan Musa — gambaran kasih yang menyelamatkan

  • Nuh: Meskipun dunia layak dihukum, Allah menyelamatkan satu keluarga — lambang kasih yang memilih dan memelihara kehidupan.
  • Abraham:

« In te benedicentur omnes gentes terræ » (Gen 12,3)
— “Dalam engkau semua bangsa di bumi akan diberkati.”
Bagi Chevalier, ini adalah nubuat tentang berkat kasih Allah yang universal yang akan memancar dari Hati Putra-Nya.

  • Musa: ketika berhadapan dengan semak menyala yang tak terbakar (Buisson ardent), Chevalier melihatnya sebagai prafigurasi Hati Yesus yang berapi kasih:

« A Horeb... c’est la charité incréée qui se manifeste au sein des épines et des flammes. »
Artinya, semak yang menyala tanpa hangus melambangkan kasih ilahi yang membakar tetapi tidak membinasakan — kasih yang nanti tampak dalam Hati Yesus yang dikelilingi mahkota duri dan nyala api.

 

Hati dalam Mazmur dan Nubuat: Penggambaran Hati Kristus

Chevalier kemudian membuka Kitab Mazmur dan menunjukkan bagaimana “le Cœur du Christ” sudah disinggung secara profetis.
Misalnya:

« Probasti cor meum et visitasti nocte » (Ps 16,3)
“Engkau menguji hatiku dan mengunjungi aku pada waktu malam.”

Atau lagi:

« Factum est cor meum tamquam cera liquefacta in medio ventris mei » (Ps 21,15)
“Hatiku menjadi seperti lilin yang meleleh di dalam dadaku.”

Chevalier membaca teks-teks ini secara alegoris: Mazmur menggambarkan perasaan Kristus dalam penderitaan-Nya, Hati yang diuji, dicairkan oleh cinta, ditindas oleh penderitaan, namun tetap taat dan penuh kasih:

« Volui, et legem tuam in medio cordis mei » (Ps 39,9)
— “Aku berkenan melaksanakan kehendak-Mu, ya Allah, dan Taurat-Mu ada di dalam hatiku.”

Inilah Hati yang taat — inti dari seluruh devosi Hati Kudus: Cœur obéissant et aimant.

 

Batu di Horeb: Simbol Jelas Hati yang Terluka

Chevalier menulis dengan kekuatan simbolik yang khas:

« En ego stabo ibi coram te supra petram Horeb... » (Ex 17,6)
“Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas batu di Horeb.”

Musa memukul batu dan darinya keluar air hidup untuk menghapus dahaga bangsa Israel.
Menurut Chevalier dan para Bapa Gereja:

« Petra autem erat Christus » (1 Cor 10,4)
“Batu itu adalah Kristus.”

Maka:

  • Batu = Kristus
  • Tongkat Musa = tombak serdadu
  • Air yang memancar = rahmat yang mengalir dari Hati Yesus yang terbuka di salib.

Ia menulis penuh kontemplasi:

« La verge dont se sert le conducteur des Hébreux pour l’entr’ouvrir, c’est la lance du soldat; l’ouverture qui s’y opère, c’est la plaie faite au côté du Sauveur, et l’eau qui en découle... représente la grâce dont le Sacré-Cœur est la source. »

Dengan begitu, peristiwa di Horeb bukan hanya mukjizat material, tetapi simbol teologis dari kasih Yesus yang tak habis mengalirkan rahmat bagi dunia.

 

Kesimpulan Teologis Chevalier

Chevalier menutup bagian ini dengan kesimpulan:

« Les auteurs sacrés... durent aussi glorifier son divin Cœur... puisqu’ils étaient initiés aux ineffables mystères de son amour. »
“Para penulis Kitab Suci tentu memuliakan Hati ilahi-Nya, karena mereka telah diresapi oleh misteri kasih-Nya yang tak terungkapkan.”

Dengan demikian, seluruh Perjanjian Lama adalah prafigurasi Hati Kudus, yang nanti akan tampak sepenuhnya di Kalvari, ketika:

« Et aspicient ad me quem confixerunt » (Zach 12,10)
“Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam.”

 

 

Inspirasi bagi Kita Saat Ini

Devosi kepada Hati Kudus, menurut semangat Chevalier, bukan sekadar penghormatan pribadi, melainkan suatu jalan hidup kristiani yang menanggapi kasih Allah dengan kasih.
Ia mengajak kita untuk:

Aimer le Cœur de Jésus, c’est entrer dans son mystère d’amour et le continuer dans le monde.

Artinya:

  • Mengenang kasih Allah yang telah mengasihi kita lebih dulu,
  • Menjadi tanda kasih itu di tengah dunia yang haus akan pengampunan,
  • Membiarkan hati kita dibentuk serupa dengan Hati Yesus yang lembut dan rendah hati (Mt 11,29).

 

Relevansi Kontemporer

Dalam konteks dunia sekarang — yang sering keras, penuh luka, dan kehilangan rasa kasih — pesan Chevalier menjadi sangat aktual:

“Le monde a besoin de connaître et d’expérimenter l’amour du Cœur de Jésus.”
Dunia perlu mengenal dan mengalami kasih Hati Yesus.

Seperti batu di Horeb yang dipukul agar mengalirkan air, demikian juga Hati kita perlu “terbuka” agar kasih Allah dapat mengalir melalui kita kepada sesama.
Kita semua, dalam semangat Chevalier, dipanggil menjadi misionaris Hati Kudus — saksi kasih Allah yang menyembuhkan dunia.

 

 

Kutipan kunci (Latin & Prancis)

  1. « Deus caritas est » — (1 Jn 4,16)
  2. « En ego stabo ibi coram te supra petram Horeb » — (Ex 17,6)
  3. « Petra autem erat Christus » — (1 Cor 10,4)
  4. « Factum est cor meum tamquam cera liquefacta... » — (Ps 21,15)
  5. « Et aspicient ad me quem confixerunt » — (Zach 12,10)
  6. « A Horeb... c’est la charité incréée qui se manifeste au sein des épines et des flammes. » — P. Chevalier

 

 

 

 SUMBER:

 Jules Chevalier, Le Sacré-Coeur de Jésus, 1900. 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GILAAAAAAAAAAAA....ANJING di PERANCIS...SPECIAL BANGUETTTTTTTTTT

Mungkin hanya kita di Asia (China dan Indonesia) saja yang memakan daging anjing. Ketika berkenalan dengan teman-teman dari berbagai negara di belahan benua lain di Perancis, mereka mengatakan bahwa sama sekali tidak makan daging anjing. Bagi mereka anjing adalah binatang peliharan yang sangat disayangi. Apalagi di negara Perancis yang sangat mencintai anjing layaknya anggota keluarga mereka sendiri. Sambil menulis cerita ini, imajinasi saya terbang jauh ke daerah Tomohon-Manado yang   terkenal dengan pasar extreme -nya. Di situ bisa dijumpai anjing-anjing yang siap dibantai untuk para pembeli. Saya bayangkan pasti turist-turist dari Perancis ketika melihat tempat itu mereka akan merasa ngeri. Hehehe.. Mengapa? karena di Perancis anjing diperlakukan seperti manusia. Ini faktanya:  Demo dalam menyuarakan larangan untuk makan daging anjing... ( ne mangeons pas de viande) Ada sekitar 17 anjing untuk setiap 100 orang di Perancis . Ini adalah salah satu rasio tertingg...

MEWARTAKAN HATI KUDUS YESUS LEWAT MEDIA PENDIDIKAN!! (INSPIRASI MISIONER DARI PARA MSC BELANDA DI PAPUA SELATAN)

Pada awal bulan Hati Kudus ini , saya ingin membagikan spirit misionaris MSC Belanda ketika mereka datang pertama kali ke Papua Selatan atau yang pada masa lalu disebut Nugini Belanda Selatan. Hal yang menarik adalah bahwa rentang waktu antara 1902-1942, para MSC Belanda yang datang bermisi ke daerah itu, mewartakan Hati Kudus Yesus lewat media Pendidikan dan juga pendirian desa-desa percontohan. Pada tahun 1920, Pastor Jos van de Kolk MSC menerbitkan artikel "Enam Anak yang Berbahagia dari Papua Nugini Selatan" dalam jurnal misionaris Journal van O.L. Vrouw van het Heilig Hart. Van de Kolk memberikan deskripsi biografi singkat tentang keenam anak Papua yang "bahagia" yang bersekolah di sekolah asrama misionaris Katolik di Langgur, Kepulauan Kei. Di akhir artikel, ia menghimbau kepada para pembaca: “Seandainya saja semua anak dan pemuda di Nugini Selatan dapat dibesarkan dan dididik seperti keenam anak ini! Hal itu akan memungkinkan untuk melestarikan orang-orang mi...

SEORANG DUDA BISA MENJADI IMAM?

P. de Vaugelas adalah seorang pastor projo keuskupan agung Bourges-Perancis Tengah.   Dia sebelumnya adalah seorang bapa keluarga yang memiliki pekerjaan top di salah satu bank Amerika di Paris. Selama masa kerja dia sudah berkeliling dunia, termasuk Indonesia. Waktu luang pun dia pernah habiskan untuk masuk dalam sekolah special di Chateroux untuk menjadi pilot. Dia jalankan itu dengan baik, dan mampu menjadi pilot dalam masa belajar hanya dalam satu tahun saja. “Saya kalau mengemudi mobil, tangan selalu siap sedia di bagiaan rem tangan, dll. Itu semua karena saya terbiasa menjadi pilot,” katanya kepadaku saat kami kembali dari l’abbey Fontgombault pada awal bulan April 2017. Yang menarik buat saya adalah sejak istrinya meninggal dia banyak berefleksi untuk menjadi imam. Dalam usianya yang tidak lagi muda (69 tahun), dia tetap rendah hati untuk meminta bimbingan rohani, termasuk meminta bimbingan rohani kepada salah satu konfrater MSC di Issoudun, Alfred Bours, MSC. Dia...