Langsung ke konten utama

“Belajar dari seorang kafir!” -Mc 7,24-30 Kamis, 08 Februari 2018




Tuhan begitu dekat dengan kita, dalam keadaan apa pun diri kita. Baik dalam keadaan bahagian maupun dalam penderitaan kita. Dalam Injil hari ini, seorang anak perempuan menderita karena kerasukan setan. Penderitaan itu membuat ibunya menderita bersamanya. Cinta luar biasa sang ibu membuat dia senasib sepenanggung bersama putri terkasihnya. Iman ibunya itu membawa pada rahmat kesembuhan sang putri. Itulah karunia keselamatan yang diwakili oleh penyembuhan putrinya. 

YANG MENARIK ADALAH BAHWA ibu itu adalah seorang kafir, warga negara Syria-Fenisia, dan dia memintanya untuk mengusir iblis dari putrinya" (Mrk 7,26). Rasa sakit dan cinta membuatnya terus-menerus bertanya, tanpa mengkhawatirkan penghinaan, penundaan, penghinaan yang dialaminya. Dan dia mendapat berkat: "Dia pulang ke rumah, dan dia menemukan anak itu terbaring di tempat tidur: setan itu telah keluar darinya." (Mrk 7.30). Wanita Siro-Fenisia ini adalah ibu yang baik, dia meminta sesuatu yang baik ("mengusir setan dari putrinya") dan dia meminta dengan cara yang baik baik ("dia datang dan menyembah ke kakinya").
Lewat ulasan teks Injil pada hari ini, Tuhan meminta kita untuk tekun menggunakan doa permohonan. Jelas bahwa ada jenis doa lainnya - adorasi, pendamaian, doa syukur - namun Yesus meminta kita agar  doa doa harus dipraktikkan dengan baik. Mengapa? Pasti ada banyak alasan: karena kita membutuhkan pertolongan Tuhan untuk mencapai tujuan kita, karena ini mengungkapkan harapan dan cinta, karena ini memproklamasikan iman kita. Kekuatan doa sungguh luar biasa!

Janganlah kita lalai dalam doa kepada Tuhan. Belajarlah dari Ibu yang datang kepada Yesus. Dia adalah seorang yang menunjukan iman luar biasa. Di dalamnya ada sikap rendah hati. Ketika tampaknya doanya tidak didengarkan Tuhan, tidak ada pemberontakan, tidak ada keluhan, tidak ada kebencian. Dia tetap teguh pada Kristus. Dia memelihara semangat kerendahan hati dan iman kepada dia yang memiliki kekuatan untuk membebaskan putrinya dari setan. Apakah saya mampu bertahan dalam doa saya bahkan ketika tampaknya Tuhan kita sedang mengalami “pendengaran yang tuli”?

Kalau saja kita bisa belajar dari teladannya! Kita perlu merenungkan cara-cara misterius dan bijaksana dari Tuhan kita saat kita menderita lewat doa yang tulus. Kita harus berpegang teguh pada kerendahan hati, sadar bahwa kita adalah makhluk yang selalu dicintai oleh Kristus, Gembala Baik kita. Dia berjanji bahwa dia tidak akan meninggalkan kita sebagai yatim piatu. Lalu mengapa iman kecil seperti itu?



Komentar

Postingan populer dari blog ini

GILAAAAAAAAAAAA....ANJING di PERANCIS...SPECIAL BANGUETTTTTTTTTT

Mungkin hanya kita di Asia (China dan Indonesia) saja yang memakan daging anjing. Ketika berkenalan dengan teman-teman dari berbagai negara di belahan benua lain di Perancis, mereka mengatakan bahwa sama sekali tidak makan daging anjing. Bagi mereka anjing adalah binatang peliharan yang sangat disayangi. Apalagi di negara Perancis yang sangat mencintai anjing layaknya anggota keluarga mereka sendiri. Sambil menulis cerita ini, imajinasi saya terbang jauh ke daerah Tomohon-Manado yang   terkenal dengan pasar extreme -nya. Di situ bisa dijumpai anjing-anjing yang siap dibantai untuk para pembeli. Saya bayangkan pasti turist-turist dari Perancis ketika melihat tempat itu mereka akan merasa ngeri. Hehehe.. Mengapa? karena di Perancis anjing diperlakukan seperti manusia. Ini faktanya:  Demo dalam menyuarakan larangan untuk makan daging anjing... ( ne mangeons pas de viande) Ada sekitar 17 anjing untuk setiap 100 orang di Perancis . Ini adalah salah satu rasio tertingg...

SEORANG DUDA BISA MENJADI IMAM?

P. de Vaugelas adalah seorang pastor projo keuskupan agung Bourges-Perancis Tengah.   Dia sebelumnya adalah seorang bapa keluarga yang memiliki pekerjaan top di salah satu bank Amerika di Paris. Selama masa kerja dia sudah berkeliling dunia, termasuk Indonesia. Waktu luang pun dia pernah habiskan untuk masuk dalam sekolah special di Chateroux untuk menjadi pilot. Dia jalankan itu dengan baik, dan mampu menjadi pilot dalam masa belajar hanya dalam satu tahun saja. “Saya kalau mengemudi mobil, tangan selalu siap sedia di bagiaan rem tangan, dll. Itu semua karena saya terbiasa menjadi pilot,” katanya kepadaku saat kami kembali dari l’abbey Fontgombault pada awal bulan April 2017. Yang menarik buat saya adalah sejak istrinya meninggal dia banyak berefleksi untuk menjadi imam. Dalam usianya yang tidak lagi muda (69 tahun), dia tetap rendah hati untuk meminta bimbingan rohani, termasuk meminta bimbingan rohani kepada salah satu konfrater MSC di Issoudun, Alfred Bours, MSC. Dia...

MEWARTAKAN HATI KUDUS YESUS LEWAT MEDIA PENDIDIKAN!! (INSPIRASI MISIONER DARI PARA MSC BELANDA DI PAPUA SELATAN)

Pada awal bulan Hati Kudus ini , saya ingin membagikan spirit misionaris MSC Belanda ketika mereka datang pertama kali ke Papua Selatan atau yang pada masa lalu disebut Nugini Belanda Selatan. Hal yang menarik adalah bahwa rentang waktu antara 1902-1942, para MSC Belanda yang datang bermisi ke daerah itu, mewartakan Hati Kudus Yesus lewat media Pendidikan dan juga pendirian desa-desa percontohan. Pada tahun 1920, Pastor Jos van de Kolk MSC menerbitkan artikel "Enam Anak yang Berbahagia dari Papua Nugini Selatan" dalam jurnal misionaris Journal van O.L. Vrouw van het Heilig Hart. Van de Kolk memberikan deskripsi biografi singkat tentang keenam anak Papua yang "bahagia" yang bersekolah di sekolah asrama misionaris Katolik di Langgur, Kepulauan Kei. Di akhir artikel, ia menghimbau kepada para pembaca: “Seandainya saja semua anak dan pemuda di Nugini Selatan dapat dibesarkan dan dididik seperti keenam anak ini! Hal itu akan memungkinkan untuk melestarikan orang-orang mi...