Langsung ke konten utama

Evangile selon St Marc, chapitre 6, 1-6



Inévitablement il est vrai que les humains ont un besoin fondamental d’appartenance. Tout comme nous avons besoin de nourriture et d’eau pour vivre, nous avons également besoin de relations positives et durables. Tout le monde voudrait être aimé, accepté, respecté. C’est pourquoi  le rejet social peut influer sur nos émotions et même sur notre santé physique. Il favorise la colère, l’anxiété, la dépression, la jalousie, la tristesse et diminue aussi les performances sur nos tâches intellectuelles difficiles.
Dans le passage de l'Evangile d'aujourd'hui, Jésus a été refusé par les gens de son pays natal. Il a enseigné  avec sagesse et autorité. Au début, ils ont été surpris quand ils ont entendu son enseignement sur le sabbat, dans la synagogue, mais ils sont mis en colère en apprenant que Jésus est seulement un de leur compatriote. Pourquoi sont-ils si difficiles, à accepter Jésus? C’est qu’ils ne sont pas en mesure d’accéder à l'expérience de la foi en Jésus, en qui Dieu parle et livre sa parole. Ils sont fermés à l'expérience de la présence de Dieu en Jésus. Ils ne croient pas en Jésus comme le messager de Dieu.
De nos jours, la plupart des refus d’accueillir la parole d’un autre vient de l'éducation, de l'âge, et des compétences. Peut-être les refus des autres est dû à nos manques, etc. Nous pouvons prendre l'exemple de Jésus qui a vécu l’expérience du rejet. Il est resté calme parce qu'il a un grand lien intime avec Dieu. Dans la bible, nous écoutons souvent que, avant d’enseigner, Jésus prie toujours son Père. Grâce à cette qualité spirituelle, il est resté concentré sur sa mission afin que Dieu soit glorifié. Il n'a pas besoin d'être loué, admiré et apprécié parce que le but de sa mission est la glorification de Dieu. Il ne recherche pas la réussite, la gloire, la bonne réputation, l'honneur, et d'autres choses que les gens envient dans ce monde.
            Mes frères et sœurs, L'Evangile d'aujourd'hui nous invite à changer de mentalité pour garder notre cœur accueillant à la parole de Dieu. L’expérience du refus nous rendre plus humbles, ce qui faisait dire à Saint Paul : »  Lorsque je suis faible, c’est alors que je suis fort. »  Nous glorifions Dieu dans l’accueil de sa Parole. A l’imitation de Jésus toujours soucieux de faire la volonté de son Père, nous sommes appelés à enrichir notre qualité d’intimité avec Dieu notre Père. Je croie que si nous avons un lien d’intimité avec notre Père et Jésus, nous ne nous dérobons pas des défis de nos responsabilités familiales ou communautaires, tout en restant humbles dans la réussite de notre mission.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEORANG DUDA BISA MENJADI IMAM?

P. de Vaugelas adalah seorang pastor projo keuskupan agung Bourges-Perancis Tengah.   Dia sebelumnya adalah seorang bapa keluarga yang memiliki pekerjaan top di salah satu bank Amerika di Paris. Selama masa kerja dia sudah berkeliling dunia, termasuk Indonesia. Waktu luang pun dia pernah habiskan untuk masuk dalam sekolah special di Chateroux untuk menjadi pilot. Dia jalankan itu dengan baik, dan mampu menjadi pilot dalam masa belajar hanya dalam satu tahun saja. “Saya kalau mengemudi mobil, tangan selalu siap sedia di bagiaan rem tangan, dll. Itu semua karena saya terbiasa menjadi pilot,” katanya kepadaku saat kami kembali dari l’abbey Fontgombault pada awal bulan April 2017. Yang menarik buat saya adalah sejak istrinya meninggal dia banyak berefleksi untuk menjadi imam. Dalam usianya yang tidak lagi muda (69 tahun), dia tetap rendah hati untuk meminta bimbingan rohani, termasuk meminta bimbingan rohani kepada salah satu konfrater MSC di Issoudun, Alfred Bours, MSC. Dia...

TANDA-TANDA KEHADIRAN ALLAH DALAM HIDUP: SEBUAH PERMENUNGAN!

Saya yakin bahwa tidak seorang pun dari kita yang pernah melihat Tuhan. Ketika seseorang berkata, " Saya percaya kepada Tuhan ," dia tidak mengatakan bahwa dia memiliki bukti keberadaan Tuhan, tetapi bahwa dia memiliki iman kepadaNya. Kata " iman " berarti "percaya." Orang-orang yang percaya adalah orang-orang yang bersatu dengan Tuhan. Mereka mengalami kehadiranNya dalam hidup mereka. Mereka tidak percaya pada transendensi sederhana, atau energi, kekuatan yang tak terlihat ... tetapi mereka percaya kepada SESEORANG yang berbicara kepada mereka secara pribadi, melalui peristiwa-peristiwa hidup mereka, dalam pengalaman batin mereka. Tuhan sering dilambangkan dengan cahaya. Seperti matahari, yang tidak bisa saya tatap secara langsung, tetapi yang menerangi apa yang mengelilingi saya, Tuhan, yang tidak saya lihat, menerangi keberadaan saya dengan memberi saya "tanda-tanda" kehadiran-Nya.  Sejak awal, Tuhan berbicara kepada manusia...

SPIRITUALITAS IMAMAT YANG DIHARAPKAN (MENYIKAPI GODAAN-GODAAN AKAN HARTA, TAHTA, DAN WANITA)

Pendahuluan Dalam kenyataan tak dapat dipungkiri bahwa seorang imam dalam benak umat Kristiani adalah tokoh penting, pewarta suara Tuhan dan pemimpin umat. Umat melihat seorang imam sebagai   sosok yang mengetahui banyak hal teristimewa pengetahuan tentang Kitab Suci dan Teologi. Imam juga adalah sosok   yang dihormati. [1]   Yang lebih dalam lagi, pastor atau gembala adalah alter christus , man of God dan pakar rohani dalam pikiran umat. Menjadi imam adalah sebuah panggilan dari Allah sendiri. Mereka yang menerima sakramen tahbisan menerima rahmat Roh Kudus yang membuat dirinya serupa dengan Kristus, menjadi alat Kristus dalam melayani Gereja-Nya. Dengan sakramen tahbisan yang didapatkan seorang tertahbis mendapat kuasa agar bertindak sebagai wakil Kristus, Kepala, dalam ketiga fungsi-Nya sebagai Imam, Nabi, dan Raja. (KGK, no. 1581). Sakramen Tahbisan memberi tanda rohani yang tidak terhapus dan tidak dapat diulangi   atau dikembalikan. (KGK,no. 1582) K...