Langsung ke konten utama

Si fueris Romae, Romano vivito more; si fueris alibi, vivito sicut ibi: SEBUAH REFLEKSI HIDUP DALAM NEGARA MISI

Si fueris Romae, Romano vivito more; si fueris alibi, vivito sicut ibi: Jika Anda berada di Roma, hiduplah seperti orang Romawi; jika Anda berada di tempat lain, hiduplah sebagai orang yang tinggal di sana.
Kalimat-kalimat indah bahasa latin di atas coba saya hidupi di negara misi, putri sulung Gereja, Perancis.


Nasihat ini diberikan kepada St Ambrose, uskup Milan, sebagai jawaban atas retorika muda Agustinus dari Thagaste, calon Santo Agustinus, yang bertanya kepadanya tentang hari kanonik istirahat mingguan (atau puasa) yang seharusnya dikehndaki oleh Allah. Di hadapan dilema "pada hari Sabtu seperti di Milan atau pada hari Minggu seperti di Roma? Ambrose lalu menjawab, "Di Roma, lakukan seperti orang Romawi."


- "Ketika saya di sini, saya tidak berpuasa, ketika saya di Roma, saya berpuasa pada hari Sabtu, di mana pun Anda berada

, menghormati adat setempat, jika Anda tidak ingin menjadi orang yang memalukan." (St. Ambrose, dikutip oleh St. Augustine, dalam sepucuk surat kepada pastor Casulanus, "Epistolae", 36, 32) ".

 Ini hanyalah masalah kesopanan, bukan untuk mencoba mengatur kehidupan orang-orang yang budayanya tidak kita kenal.

Di negara yang bukan milik Anda, Anda harus berperilaku sedemikian rupa untuk melebur ke dalam massa dan tidak berupaya memaksakan kebiasaan Anda.


Benar bahwa di negara Perancis, saya melebur dalam segala hal yang berkaitan dengan negara Perancis. Mari kita saling mendoakan. Salam Ametur

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEORANG DUDA BISA MENJADI IMAM?

P. de Vaugelas adalah seorang pastor projo keuskupan agung Bourges-Perancis Tengah.   Dia sebelumnya adalah seorang bapa keluarga yang memiliki pekerjaan top di salah satu bank Amerika di Paris. Selama masa kerja dia sudah berkeliling dunia, termasuk Indonesia. Waktu luang pun dia pernah habiskan untuk masuk dalam sekolah special di Chateroux untuk menjadi pilot. Dia jalankan itu dengan baik, dan mampu menjadi pilot dalam masa belajar hanya dalam satu tahun saja. “Saya kalau mengemudi mobil, tangan selalu siap sedia di bagiaan rem tangan, dll. Itu semua karena saya terbiasa menjadi pilot,” katanya kepadaku saat kami kembali dari l’abbey Fontgombault pada awal bulan April 2017. Yang menarik buat saya adalah sejak istrinya meninggal dia banyak berefleksi untuk menjadi imam. Dalam usianya yang tidak lagi muda (69 tahun), dia tetap rendah hati untuk meminta bimbingan rohani, termasuk meminta bimbingan rohani kepada salah satu konfrater MSC di Issoudun, Alfred Bours, MSC. Dia...

TANDA-TANDA KEHADIRAN ALLAH DALAM HIDUP: SEBUAH PERMENUNGAN!

Saya yakin bahwa tidak seorang pun dari kita yang pernah melihat Tuhan. Ketika seseorang berkata, " Saya percaya kepada Tuhan ," dia tidak mengatakan bahwa dia memiliki bukti keberadaan Tuhan, tetapi bahwa dia memiliki iman kepadaNya. Kata " iman " berarti "percaya." Orang-orang yang percaya adalah orang-orang yang bersatu dengan Tuhan. Mereka mengalami kehadiranNya dalam hidup mereka. Mereka tidak percaya pada transendensi sederhana, atau energi, kekuatan yang tak terlihat ... tetapi mereka percaya kepada SESEORANG yang berbicara kepada mereka secara pribadi, melalui peristiwa-peristiwa hidup mereka, dalam pengalaman batin mereka. Tuhan sering dilambangkan dengan cahaya. Seperti matahari, yang tidak bisa saya tatap secara langsung, tetapi yang menerangi apa yang mengelilingi saya, Tuhan, yang tidak saya lihat, menerangi keberadaan saya dengan memberi saya "tanda-tanda" kehadiran-Nya.  Sejak awal, Tuhan berbicara kepada manusia...

BINCANG-BINCANG BERSAMA P. BERN TETHOOL, MSC MENGENAI MISI GEREJA KATOLIK DI JEPANG

Foto 1-P. JOSEPH BERNARDUS TETHOOL, MSC Misionaris Hati Kudus telah hadir di Jepang sejak tahun 1940-an. Karya Apostolat MSC di negeri Sakura ini meliputi; Gereja Katolik Johokubashi, Gereja Katolik Fukui,   Gereja Katolik Gifu, Pusat Mikokoro dan Taman Kanak-Kanak Nagoya, serta Tenshi Kindergarten Gifu. Karya misi MSC di Jepang dibawa tanggung jawab provinsi MSC Australi a. Untuk para MSC, kebanyakan yang berkerja di Jepang adalah para MSC dari Indonesia. Di antaranya adalah P. Joseph Bern Tethool, MSC. 26 tahun sudah pastor Bern, MSC bermisi di Jepang. Imam MSC asal Provinsi Indonesia ini sudah mengenal seluk beluk dan perjuangan misi gereja katolik di Jepang. Ada banyak kisah. Imam yang murah senyum ini menuturkan bahwa misi di Jepang menuntut banyak energi, semangat, dan tentunya “CINTA.” Kalau tidak ada unsur-unsur ini, sudah pasti si misionaris akan minta kembali ke tanah air asal yang lebih confort. “Bayangkan saja, untuk mengerti Bahasa Jepang, saya butuh waktu be...